NASIONAL

Merawat yang Turun dari Langit: FEB UGM dan Jalan Kesadaran Air

Sleman | Suaraindependentnews.id – Kegiatan pelatihan Sekolah Air Hujan bersama Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) dengan tema “Pelatihan Pengelolaan dan Pemanfaatan Air Hujan” dilaksanakan pada Rabu, 21 Januari 2026, bertempat di Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Sejak pagi hari, peserta yang terdiri dari 25 staf FEB UGM, Kepala Kantor Administrasi, serta dua pendamping berangkat dari kampus pada pukul 08.00 WIB. Rangkaian kegiatan diawali dengan coffee break sebelum memasuki sesi pelatihan.

Pelatihan dimulai pada pukul 08.30 diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Pada pengantar awal, disampaikan oleh Kepala Administrasi, Nur Bakti Susilo, S.E., Ak., CA., ASEAN CPA, harapannya agar kegiatan ini tidak hanya berdampak pada diri sendiri, akan tetapi juga kepada seluruh lingkungan termasuk menjadi kegiatan semangat kampus berdampak pada lingkungan yang lebih baik. Karena kegiatan ini telah diawali oleh FEB yang telah membuat sumur resapan. Harapannya dapat dimanfaatkan, tidak hanya disimpan melalui sumur resapan, tetapi sebelum masuk ke dalam tanah bisa dikelola dengan baik, termasuk untuk memenuhi kebutuhan air bersih di kampus terutama di FEB, untuk keperluan minum, toilet dan lain sebagainya.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda pembelajaran, tetapi juga mampu menghadirkan dampak nyata di lingkungan kerja maupun kehidupan sehari-hari peserta. Semangat kampus berdampak menjadi benang merah kegiatan, di mana setiap peserta diharapkan dapat menjadi pelaku perubahan dengan menularkan pengetahuan yang diperoleh, dimulai dari kebiasaan kecil di lingkungan masing-masing.

Memasuki sesi utama, Sri Wahyuningsih, pendiri Sekolah Air Hujan, mengajak peserta untuk meninjau kembali relasi manusia dengan air sebagai bagian dari semesta ini tidak bisa dipisahkan. Air hujan diposisikan bukan sekadar fenomena alam, melainkan sumber kehidupan yang selama ini kerap terabaikan. Dijelaskan pula bahwa air hujan merupakan sumber utama air di bumi yang melalui siklus alam turun ke berbagai wilayah—pegunungan, pekarangan, sungai, hingga laut—lalu kembali menguap. Persoalan utama, menurutnya, bukan terletak pada air hujan itu sendiri, melainkan pada cara manusia mengelolanya setelah jatuh ke bumi. Oleh karena itu, sistem penyaringan dan pengelolaan menjadi kunci agar kualitas air tetap terjaga.

Dalam pemaparannya, Sri Wahyuningsih juga menyoroti kebiasaan eksploitasi air tanah yang kerap dilakukan tanpa upaya mengembalikannya ke alam. Pengambilan air tanah secara masif tanpa resapan disebut sebagai bentuk ketidakadilan ekologis, karena di dalam tanah terdapat hak makhluk lain seperti tanaman dan hewan. Kampus, menurutnya, justru harus menjadi pelopor dalam menjaga keseimbangan tersebut, bukan menjadi bagian dari eksploitasi sumber daya air. Air hujan diperkenalkan sebagai solusi yang adil, murah, dan berkelanjutan, karena air yang diambil berasal dari langit dan dapat dikembalikan lagi ke tanah melalui sistem resapan.

Suasana diskusi berlangsung cair dengan diselingi humor, refleksi, dan pengalaman personal. Peserta diajak menyadari bahwa tubuh manusia sebagian besar tersusun dari air, sehingga kesehatan sangat berkaitan dengan kualitas air yang dikonsumsi. Air dipahami bukan hanya sebagai kebutuhan biologis, tetapi juga menyangkut ketahanan lingkungan dan masa depan. Konsep Air Hujan Menjaga Masa Depan diperkenalkan sebagai pijakan berpikir bersama bahwa pengelolaan air hujan merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan ekologis.

Pada sesi berikutnya, peserta dikenalkan pada praktik sederhana pengujian kualitas air menggunakan alat TDS tester. Masing-masing peserta membawa sampel air dari rumah, seperti air sumur, air tanah, maupun air konsumsi harian. Hasil pengukuran menunjukkan perbedaan kadar partikel terlarut pada setiap sampel. Angka yang tinggi menandakan semakin banyak paparan zat terlarut, sementara angka yang lebih rendah menunjukkan kualitas air yang lebih baik. Melalui praktik ini, peserta memahami bahwa air yang terlihat jernih belum tentu aman untuk dikonsumsi.

Diskusi kemudian mengarah pada kesadaran bahwa air hujan, sebelum terkontaminasi oleh lingkungan permukaan, memiliki potensi kualitas yang lebih baik. Pengelolaan air hujan perlu dilakukan secara sadar: menampung sesuai kebutuhan, menyaring dengan benar, menggunakan secukupnya, dan mengembalikan sisanya ke dalam tanah. Prinsip ini menjadi dasar pembelajaran bersama sebelum peserta memasuki pemahaman lanjutan mengenai konsep 5M dalam Sekolah Air Hujan.

Pelatihan pada sesi awal ini menegaskan bahwa tidak ada sekat antara pengajar dan peserta. Semua diajak belajar bersama, berbagi pengalaman, dan membangun pemahaman kolektif tentang air hujan sebagai sumber kehidupan. Harapannya, pembelajaran ini tidak hanya diterapkan di lingkungan kampus, tetapi juga menjadi kebiasaan di rumah dan lingkungan tempat tinggal masing-masing, sehingga pengelolaan air hujan tumbuh sebagai budaya, bukan sekadar pengetahuan.

Kontributor ; Ainaya Nurfadila

Editor&publisher: mahmudi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button