Apatis atau Kritis Membaca Ulang Partisipasi Gen Z
Penulis; Fathia Rizki Ramadhani 2410833031
(Artikel opini ini diunggah untuk memenuhi nilai uts mata kuliah sosiologi politik)
Banyak orang menilai Generasi Z sebagai generasi yang apatis terhadap politik. Mereka sering dianggap tidak peduli dengan isu kebangsaan, malas mengikuti berita politik, dan lebih suka bermain media sosial atau menikmati hiburan digital daripada memikirkan masa depan bangsa. Bahkan, ada yang menilai semangat idealisme mereka sudah hilang, tidak seperti generasi sebelumnya yang aktif berjuang demi perubahan.
Namun, benarkah Generasi Z benar-benar tidak peduli pada politik? Atau mungkin mereka justru sedang menunjukkan bentuk kepedulian politik yang berbeda lebih kritis, selektif, dan tidak mau mengikuti cara-cara sebelumnya.
Sebenarnya, kata “apatis” terlalu sederhana untuk menggambarkan Generasi Z. Mereka tumbuh di zaman yang serba cepat dan penuh informasi. Setiap hari mereka bisa dengan mudah mengakses berita politik, melihat skandal korupsi, konflik antar-elite, atau janji politik yang tidak ditepati.
Karena itu, rasa tidak percaya terhadap sistem politik bukan muncul karena cuek, tapi karena mereka sudah terlalu sering melihat kenyataan yang mengecewakan.
Dulu, partisipasi politik diukur dari hal-hal formal seperti ikut pemilu, menjadi anggota partai, atau turun ke jalan saat demonstrasi.
Jika ukuran ini dipakai, wajar kalau banyak yang mengangga generasi z sekarang pasif. Tapi sebenarnya, cara berpolitik sudah berubah. Di era digital, Generasi Z punya cara baru untuk menyuarakan pendapat.
Mereka aktif di media sosial, membuat video edukatif, meme politik, dan ikut kampanye online. Gerakan tagar seperti “#IndonesiaGelap” atau “#TolakOmnibusLaw” membuktikan bahwa mereka bisa menyatukan suara dan memperjuangkan keadilan tanpa harus turun ke jalan.
Jadi, tidak ikut bukan berarti tidak peduli.
Dalam ilmu politik, cara seperti ini disebut “partisipasi politik non-konvensional”.
Menurut ahli politik Samuel P. Huntington dan Joan Nelson, bentuk partisipasi ini muncul karena masyarakat sudah tidak percaya lagi pada saluran politik resmi.
Artinya, ketika Generasi Z menyuarakan pendapat lewat media sosial atau petisi online, itu bukan tanda mereka tidak peduli, tapi karena mereka ingin mencari cara baru yang lebih sesuai dengan zaman. Sikap kritis mereka justru menunjukkan bahwa mereka berpikir dan menilai, bukan asal ikut.
Tentu saja, tetap ada sebagian Generasi Z yang benar-benar tidak tertarik dengan politik. Mereka merasa politik hanya urusan para elite, tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka. Hal ini bisa terjadi karena pendidikan politik di Indonesia masih kurang mendalam.
Di sekolah, politik sering diajarkan secara teori dan hafalan, bukan sebagai ruang untuk berdiskusi dan memahami dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Akibatnya, banyak anak muda yang tidak sadar bahwa keputusan politik sebenarnya sangat memengaruhi masa depan mereka.
Tantangan kita sekarang adalah bagaimana dunia politik bisa memahami cara berpikir generasi digital. Politikus dan lembaga negara perlu beradaptasi dengan gaya komunikasi yang lebih terbuka, jujur, dan partisipatif. Sekolah dan kampus juga perlu memberikan pendidikan politik yang relevan dan mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis tanpa kehilangan semangat perubahan.
Generasi Z sebenarnya membawa harapan baru bagi demokrasi Indonesia. Mereka membuktikan bahwa politik tidak harus selalu elitis atau penuh kepentingan. Bagi mereka, keadilan, transparansi, dan integritas jauh lebih penting daripada sekadar kekuasaan atau popularitas.
Mereka mungkin tidak fanatik terhadap tokoh atau partai, tapi justru itu menunjukkan kematangan berpikir. Mereka ingin politik yang rasional, terbuka, dan berbasis nilai.
Karena itu, sudah saatnya kita berhenti menyebut Generasi Z sebagai generasi yang apatis. Mereka bukan tidak peduli mereka hanya punya cara yang berbeda untuk peduli. Rasa kecewa atau skeptis mereka adalah bentuk protes terhadap sistem yang belum memberi ruang bagi suara muda.
Jika politik bisa lebih terbuka dan memberi tempat bagi mereka untuk berpartisipasi, semangat kritis Generasi Z bisa menjadi kekuatan besar untuk membangun demokrasi Indonesia yang lebih baik di masa depan.(*)




