Bumi Cuma Satu: LMI Ubah Momentum Hari Lahan Basah Jadi Gerakan Perlindungan Nyata

Surabaya | Suaraindependentnews.id – Hari Lahan Basah Sedunia diperingati setiap 2 Februari untuk meningkatkan kesadaran global akan pentingnya ekosistem lahan basah (seperti rawa, gambut, mangrove, danau) bagi manusia dan planet. Peringatan ini menandai diadopsinya Konvensi Ramsar pada 2 Februari 1971 di Iran, yang berfokus pada konservasi dan penggunaan bijak lahan basah sebagai penyaring air alami dan penyerap karbon.
Sabtu, 14 Februari 2026 Lembaga Manajemen Infaq (LMI) Ariska M. Fauzia
(Manajer Pendidikan dan Lingkungan) mengajak beraksi nyata dalam penanaman mangrove di Kebun Raya Mangrove Gunung anyar yang berlokasi di Jalan Medokan Sawah Timur Segoro Tambak Sedati, Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, Surabaya, Jawa Timur. Kegiatan ini di ikuti 54 peserta baik dari Komunitas Banyu Bening, R-KomPAS (Rumah Komunitas Pecinta Alam Senusantara), Lorong Edukasi, Earth Hour, Kawan Healing, Marine Buddies Surabaya, WCD Jatim, dan Organisasi, Lembaga atau perorangan dalam sinergi giat yang bukan penanaman saja tapi juga edukasi mengenalkan jenis-jenis mangrove dan manfaatnya yang membuat peserta antusias mengikuti nya dan di ajak keliling ke sekitaran Area Mangrove yang di bagi 2 kelompok, masing2 punya Koordinator yang didampingi oleh Tim Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar sendiri Wisnu dan Supri. Bibit yang di tanam berjumlah 800 bibit yang di tanam dengan 1 Lubang 5 batang Mangrove dan tidak lupa Polibag di bawa kembali ke darat agar tetap terjaga kebersihan laut dan area penanamannya.

Kegiatan ini di pimpin oleh Mustika. K , di bidang Lingkungan LMI yang sangat ramah dan memberikan pesan untuk kita semua bahwa alam telah memberi kan segalanya buat kita, tapi kontribusi apa kita kepada alam selama ini, Yuk refleksi diri dan saat nya kita empati untuk Menjaga dan merawatnya agar kelak anak keturunan nanti ikut merasakan dan menikmatinya untuk ikut melestarikan nya.

Harapan Kita semua kegiatan seperti ini semakin masif dan di informasikan lenih luas di media sosial bahkan sampai di lingkungan sekitar tempat tinggal kita, agar keseimbangan alam menjadikan persahabatan saling memberi dan menerima (simbiosis mutualisme) dan menjadi program di lingkungan pendidikan agar lebih banyak yang sadar dan tau manfaat Konservasi Alam sebagai bentuk Mitigasi dan PRB (Pengurangan Resiko Bencana).
“Bumi cuma Satu, Manusia adalah Tamu”
Kontributor ;AJ. Purwanto
Editor&publisher: mahmudi




