Genap Sebulan Berlalu, Duka Ibu Leni: Balita Meninggal Usai Diduga Salah Penanganan di RS Ananda Babelan

Bekasi.| Suaraindependentnews.id — Genap satu bulan berlalu, duka mendalam masih menyelimuti Ibu Leni (36), warga Babelan, Kabupaten Bekasi. Buah hatinya, RAS (1 tahun 7 bulan), meninggal dunia usai menjalani perawatan dan tindakan operasi di RS Ananda Babelan pada Desember 2025 lalu. Keluarga menduga adanya kelalaian medis dalam proses penanganan sang anak.
Kepada awak media, Ibu Leni menuturkan kronologi bermula pada Minggu, 7 Desember 2025, sekitar pukul 05.00 WIB, saat RAS mengalami muntah-muntah sejak subuh. Khawatir dengan kondisi anaknya, orang tua membawa RAS ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Ananda Babelan.
“Di IGD dokter bilang anak saya tidak demam, hanya muntah-muntah. Bahkan sempat disarankan boleh pulang dan diberi obat,” ujar Leni.
Namun karena merasa cemas, orang tua meminta agar RAS dirawat inap dan ditempatkan di ruang VIP 10. Selama perawatan, anak tersebut dipasang infus dan diberikan beberapa suntikan obat melalui infusan.
Leni mengaku sempat mempertanyakan jenis obat yang diberikan perawat.
“Saya tanya, ini obat apa? Dijawab obat anti mual, anti muntah, lambung, dan parasetamol. Saya bilang anak saya tidak demam. Kok suntikannya banyak sekali, padahal umur anak saya baru satu tahun lebih,” tuturnya.
Tak lama berselang, perawat kembali meminta izin untuk menyuntikkan antibiotik. Leni langsung menyampaikan bahwa anaknya memiliki alergi terhadap antibiotik. Namun setelah suntikan pertama diberikan, tak lama kemudian keluar darah dari anus anaknya.
“Saya panik. Tapi perawat bilang itu mungkin bakteri yang keluar,” katanya.
Beberapa jam kemudian, antibiotik kembali disuntikkan untuk kedua kalinya. Reaksi serupa kembali terjadi, darah keluar tanpa disertai feses. Merasa kondisi anaknya semakin memburuk, Leni meminta agar pemberian antibiotik dihentikan.
Keesokan paginya, Leni bertemu dokter jaga dan kembali menegaskan agar antibiotik tidak diberikan karena alergi. Setelah itu, RAS disebut sempat menunjukkan kondisi membaik. Hasil USG pertama juga dinyatakan normal, sehingga orang tua merasa lega melihat anaknya kembali aktif dan ceria.
Namun situasi berubah pada Selasa. Dokter anak memanggil orang tua dan menyatakan RAS harus kembali diberi antibiotik karena diduga mengalami infeksi bakteri. Orang tua menolak dan meminta pemeriksaan ulang karena kondisi anak sudah membaik sejak antibiotik dihentikan.
“Saya sudah bilang anak saya alergi obat, dan keadaannya membaik. Tapi permintaan kami seperti tidak didengar,” ungkap Leni.
Menurut pengakuan orang tua, saat Leni bergantian menjaga dengan suaminya, anak kembali disuntik antibiotik tanpa sepengetahuan keluarga. Setelah itu, kondisi RAS mendadak drop, mengeluarkan banyak darah, dan perutnya membesar.
USG kedua pun dilakukan dengan hasil menyebutkan kondisi usus sudah rusak dan harus segera dioperasi. Operasi dilakukan dan selesai sekitar pukul 02.00 WIB. RAS kemudian dirawat di ruang ICU. Namun pada 10 Desember 2025, sekitar pukul 06.00 WIB, RAS dinyatakan meninggal dunia.
Atas kejadian tersebut, pihak keluarga mengaku sangat terpukul dan kecewa terhadap pelayanan rumah sakit. Bersama kuasa hukum, orang tua korban mendatangi pihak RS Ananda Babelan untuk meminta pertanggungjawaban.
“Pihak rumah sakit hanya menyampaikan permintaan maaf dan menawarkan fasilitas pengobatan gratis jika ada keluarga yang sakit. Itu saja,” terang Leni saat diwawancarai media, Minggu (18/01/2026).
Media juga telah mendatangi RS Ananda Babelan untuk melakukan konfirmasi. Namun pihak keamanan rumah sakit menyampaikan agar konfirmasi dilakukan kembali pada hari Senin.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari manajemen RS Ananda Babelan.
Keluarga berharap pemerintah, khususnya instansi terkait di bidang kesehatan, dapat melakukan evaluasi dan pengawasan serius agar peristiwa serupa tidak terulang kembali.




