Literasi Air untuk Masa Depan: KKN Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Perkuat Kesadaran Ekologis Masyarakat”

Sleman | suaraindependentnews.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menggelar kegiatan edukasi bertema literasi air di Padukuhan Sangurejo RT 03, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Jumat (13/2/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Embung Kaliaji ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat kesadaran ekologis masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan air hujan secara bijak dan berkelanjutan.

Edukasi ini dilatarbelakangi oleh belum optimalnya pemanfaatan fasilitas panen air hujan yang telah tersedia di lingkungan warga. Meski sarana sudah ada, pemahaman tentang cara pengoperasian, penyaringan, hingga perawatan sistem masih perlu ditingkatkan.
Melalui pendekatan partisipatif, mahasiswa KKN berupaya menjembatani kebutuhan tersebut dengan menghadirkan materi yang aplikatif dan mudah dipahami.

Kegiatan diikuti oleh 24 peserta dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari perangkat RT, Proklim, pengelola desa wisata, PKK, Kelompok Wanita Tani (KWT), hingga Karang Taruna.
Keberagaman peserta ini memperkuat harapan bahwa literasi air dapat menyentuh berbagai lapisan masyarakat dan mendorong perubahan perilaku kolektif.
Hadir sebagai narasumber utama, Sri Wahyuningsih, pegiat lingkungan sekaligus pendiri Yayasan Mutiara Banyu Langit, memaparkan konsep 5M Air Hujan: menampung, mengolah, minum, menabung, dan mandiri.
Ia menekankan bahwa air hujan memiliki kualitas yang baik apabila ditampung dengan prosedur yang tepat, memperhatikan waktu turunnya hujan, kebersihan atap, serta sistem penyaringan yang memadai. “Air hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit, tetapi sumber daya yang harus dikelola dengan ilmu dan kesadaran,” ujarnya.
Tak hanya pemaparan materi, kegiatan juga dilengkapi praktik langsung berupa pengecekan dan uji kandungan air hujan yang dibandingkan dengan air sumur dan air minum rumahan. Peserta terlihat antusias mengikuti setiap tahapan, berdiskusi aktif, serta mencoba langsung proses pengujian.
Dari hasil praktik tersebut, warga memperoleh pemahaman baru mengenai kualitas air hujan dan potensi pemanfaatannya sebagai alternatif sumber air yang aman.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap literasi air tidak berhenti pada tataran pengetahuan, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan dan budaya baru dalam pengelolaan sumber daya alam.
Edukasi ini diharapkan menjadi pijakan awal menuju desa yang lebih mandiri air, sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan di tingkat lokal.
Dengan semangat kolaborasi antara akademisi dan masyarakat, literasi air menjadi investasi masa depan—bahwa menjaga setiap tetes air hari ini berarti menjaga keberlanjutan kehidupan esok hari.




