NASIONAL

Meugang dan Makna Ukhuwah: LMI Satukan Adat, Iman, dan Kepedulian

Aceh Tengah | suaraindependentnews.id  – Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, suasana di Desa Kebet, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, terasa berbeda. Di tengah masa pemulihan pascabanjir longsor, tradisi meugang kembali dihidupkan. Bagi masyarakat Aceh, meugang bukan sekadar menyembelih hewan dan membagikan daging, tetapi simbol kebersamaan, solidaritas, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.


Selasa (17/2/2026), Laznas LMI menghadirkan satu ekor sapi lokal dengan total sekitar 120 kilogram daging untuk didistribusikan kepada 60 warga penyintas. Program ini menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi meugang agar tetap lestari, sekaligus menguatkan semangat ukhuwah di tengah ujian yang pernah melanda.

Susanto, Humanitarian Program Laznas LMI, menyampaikan bahwa bantuan meugang ini merupakan bentuk kepedulian agar masyarakat tetap dapat menyambut Ramadan dengan penuh kebersamaan. “Di tengah masa pemulihan, kami ingin memastikan tradisi yang menjadi identitas budaya Aceh tetap terjaga. Meugang adalah simbol persaudaraan dan kebahagiaan bersama,” ujarnya.


Tradisi meugang sendiri telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Biasanya dilaksanakan menjelang Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha, meugang menjadi momentum berkumpulnya keluarga, berbagi rezeki, serta mempererat tali silaturahmi. Nilai adat dan syariat berpadu dalam praktik budaya ini, sebagaimana falsafah Aceh yang menjunjung tinggi keselarasan antara agama dan tradisi.

Ustadz Abshar, salah satu tokoh masyarakat sekaligus penyintas, mengungkapkan rasa syukur atas perhatian para donatur. “Terima kasih kepada seluruh donatur LMI yang telah membantu kami menjaga adat meugang di desa kami. Semoga menjadi amal kebaikan yang terus mengalir,” tuturnya.


Selain membantu masyarakat, pembelian sapi lokal juga menjadi dukungan bagi peternak setempat, sehingga manfaatnya dirasakan lebih luas. Bagi LMI, program ini bukan hanya distribusi daging, tetapi upaya menyatukan adat, iman, dan kepedulian dalam satu gerak kebaikan.

Di Tanah Gayo, meugang kembali mengajarkan bahwa kebersamaan adalah kekuatan. Di antara ujian dan pemulihan, ukhuwah tetap terjaga—dan Ramadan pun disambut dengan hati yang lebih lapang serta penuh syukur.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button