Tak Berkategori

“Rangkah Rangkah,” Ribuan Hektar Sawah di Solok Bakal Gagal Panen

Trio Karno Vivo ; Solok Kering Kerontang, Swasembada Pangan Tinggal Cerita, Pemda Segera Cari Solusi

Kering kerontang, Anggota DPRD Kabupaten Solok,Trio Karno Vivo tinjau sumber mata air di Nagari Koto Sani Kecamatan X Koto Singkarak Kabupaten Solok

Solok, Suaraindependent.id — Selain daerah penghasil sayuran, Kabupaten Solok juga dikenal sebagai daerah penghasil beras terbesar di Sumatera Barat. Mendekati 7 bulan terakhir ini tidak lagi disirami hujan, ribuan hektare sawah diprediksi bakal gagal panen.

Bencana kekeringan ini sudah mulai berdampak terhadap persawahan masyarakat sejak dua bulan terakhir ini. Sebelumnya stok air masih melimpah sehingga persawahan warga masih teraliri dengan baik.

Mendekati bulan ke tujuh tahun 2025 ini, kemarau panjang itu kian terasa. Ribuan hektar sawah mulai kering, akibatnya pertumbuhan padi pun terganggu. Parahnya, padi yang mulai menguning dan siap dipanen hangus kekeringan.

Dimana mana sawah sudah “rangkah rangkah” (retak retak) karna tak lagi dialiri air. Padi yang sudah ditanam mati karena tanahnya sudah kering kerontang.

Hal yang sama juga dialami oleh masyarakat Nagari Koto Sani, Kecamatan X Koto Singkarak Kabupaten Solok. Puluhan hektar sawah yang menghasilkan gabah kering 40 ton tiap panennya, tahun ini tak bisa disemai.

 “Panen gabah tahun ini akan mengalami kegagalan karena tanaman padi selalu mati sebelum tumbuh”

Menyikapi hal tersebut, bersama masyarakat, anggota DPRD Kabupaten Solok dari Fraksi Golkar, Trio Karno Vivo mengambil langkah langkah kongkrit.

Sumber mata air Kapalo Banda tak luput dari kekeringan

Hal pertama yang dilakukan Vivo adalah dengan menelusuri dan memperbaiki sumber mata air yang ada di Kapalo Banda Batang Puniak Nagari Koto Sani bersama warga pada Sabtu 5 Juli 2025 lalu.

Namun yang ditemukan tidaklah seperti yang dibayangkan, satu-satunya harapan masyarakat adalah sumber mata air Kapalo Banda tersebut, namun itupun sudah kering.

Berbagai upaya juga sudah dilakukan, hingga wacana perbaikan dan pembangunan ulang bak tampung Kapalo Banda tersebut. Terakhir, Vivo akan membuat sumur bor bersama warga.

Trio Karno Vivo menyanggupi untuk memperjuangkan perbaikan embung kecil tersebut melalui dana Pokok Pikiran (Pokir) DPRD.

“Insyaallah, perbaikan pengedaman ini akan saya masukkan dalam Pokir tahun 2026 sebesar seratus juta rupiah. Kita berharap program ini bisa berjalan sesuai aturan dan memberikan dampak besar terhadap sektor pertanian yang sudah lama lumpuh”

Namun sebelum itu, kita harus mengambil langkah langkah preventif pencegahan gagal panen, ungkap Vivo.

“Membangun sumur bor adalah solusi yang tepat dan cepat, mengingat kemarau panjang ini akan berakibat gagal panen”

Mengingat Kabupaten Solok sebagai penghasil Beras Solok, Trio Karno Vivo mengingatkan pemerintah daerah untuk segera mengambil sikap dalam mengatasi kekeringan ini. Kalau tidak, Swasembada Pangan di Solok tahun ini bakal tinggal cerita.

Kehadiran dan komitmen Trio Karno Vivo memberikan sinyal positif bagi masa depan pertanian di Nagari Koto Sani.

Masyarakat juga berharap, Pemerintah Daerah Kabupaten Solok turut mendukung langkah ini dalam membuat sumur bor dan membangun Kapalo Banda. Dengan kembalinya aliran air ke sawah, harapan petani untuk kembali hidup sejahtera perlahan bisa kembali disemai.

Kering kerontang, tak ada air, sawah warga tidak bisa di olah

Menjawab harapan masyarakat tersebut, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Drh. Kenedy Hamzah menyebutkan langkah pembangunan sumur bor saat ini sudah sangat tepat, karna untuk menunggu hujan turun diperkirakan akan membutuhkan waktu beberapa bulan lagi, sementara sungai sungai sudah pada kering.

Untuk mendukung penyebaran air ke sawah sawah warga, Pemerintahan Kabupaten Solok memiliki pompa air yang diberikan oleh Kementrian Pertanian pada tahun 2024 lalu.

“Pompa Brigade Alat Mesin Pertanian itu sudah kita bagikan ke kelompok tani pada tahun 2024 lalu, jika ada yang membutuhkan pompa itu bisa dipinjam pakaikan”

Bagi warga yang ingin memakai pompa air tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Solok akan memfasilitasi dan mensondingkan ke Penyuluh Pertanian nantinya.

Selain berada di kelompok kelompok tani, Pompa Brigade tersebut juga ada di gudang dinas, ungkap Kenedy.

Terkait pembangunan sumur bor, sekarang ini pemerintah daerah tidak memiliki anggaran untuk itu, karena dana DAK Pertanian tahun 2025 kena efisiensi dari pemerintah pusat, terang Kadis Pertanian. (Billy)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button