DAERAH

Syaiful Rajo Bungsu Berbicara ; Solok Darurat Kebakaran

Dari Jeritan Tanah Terbakar, Hingga Suara Pemimpin yang Mencari Jalan Keluar

Kabut asap mulai menjadi pemandangan harian di Kabupaten Solok. Udara yang dulu sejuk kini sesak. Satu per satu rumah hangus, ladang rakyat habis terbakar, bahkan nyawa melayang dalam sunyi bencana.

Ditengah krisis ini, Bupati Solok, Jon Firman Pandu, meninggalkan kenyamanan ruang kerjanya dan bertolak ke Jakarta. Ia tidak membawa berita baik, tetapi suara rakyat yang minta tolong. Suara dari tanah yang sedang terbakar.

Sejak awal Juli 2025, hampir setiap hari masyarakat Kabupaten Solok harus berhadapan dengan ancaman kebakaran. Kebakaran hutan, lahan pertanian, dan permukiman terjadi silih berganti, diperparah oleh cuaca panas ekstrem akibat kemarau panjang.

Api menjalar cepat, meninggalkan kerugian material, trauma psikologis, bahkan kehilangan anggota keluarga. Situasi ini memaksa pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat, sembari mencari jalan keluar ke pusat pemerintahan.

Langkah cepat diambil Bupati Solok, Jon Firman Pandu, secara langsung menghadap Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dr. Rustian, S.Si., Apt., M.Kes, di Jakarta.

Dalam pertemuan yang penuh urgensi itu, Pemkab Solok menyampaikan kondisi darurat yang tengah dihadapi daerahnya dan mengajukan sejumlah kebutuhan prioritas.

Dari hasil koordinasi tersebut, terdapat beberapa poin strategis yang penting di sampaikan :

  1. Rehabilitasi dan rekonstruksi bencana telah disampaikan Pemkab Solok kepada BNPB, khususnya terkait banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Pantai Cermin pada 20 Desember 2023. Nilai anggaran yang diajukan mencapai Rp11.882.900.000.
  2. Perbaikan infrastruktur, hunian warga terdampak, serta pemulihan ekonomi lokal pasca-bencana.
  3. Untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kini meningkat tajam, BNPB membuka peluang bantuan logistik berupa motor trail, water tank, mesin pompa beserta slang, pompa alkon, dan tenda pengungsi. Bantuan ini diharapkan mempercepat respon pemadaman serta evakuasi warga terdampak.
  4. Dalam menangani korban serta potensi kebakaran lanjutan, BNPB mendorong pembentukan Satuan Tugas (Satgas) darat dan udara. Solusi udara melibatkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dijadwalkan pada 26 Juli 2025 di wilayah Kabupaten Solok, sebagai langkah intervensi terhadap kekeringan dan potensi kebakaran masif.
  5. Pengajuan bantuan dilakukan melalui sistem digital e-Proposal, dengan syarat dokumen utama berupa R3P (Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana). Selain itu, hibah rehabilitasi dan rekonstruksi (RR) juga bisa dimanfaatkan, dengan catatan melengkapi SK tanggap darurat dan dokumen rencana operasi.

Langkah yang diambil Jon Firman Pandu ini menggambarkan paradigma kepemimpinan daerah yang tidak hanya responsif, tapi juga strategis dan kolaboratif.

Dalam kondisi tertekan, ia memilih untuk tidak menunggu bantuan datang, melainkan menjemputnya dengan data, dokumen, dan pendekatan kebijakan.

Namun di balik diplomasi dan prosedur administratif, ada suara yang lebih lirih tapi mendesak: suara masyarakat yang merasa terancam, yang setiap malam tidur gelisah karena takut api datang lagi.

Mereka adalah petani kecil yang kehilangan ladang, ibu rumah tangga yang kehilangan rumah, dan anak-anak yang kini hidup dalam bayang-bayang trauma. Situasi ini menuntut kehadiran negara secara menyeluruh dan bukan sekadar bersifat simbolik.

Artikel ini juga menjadi panggilan moral bagi semua pemangku kebijakan, bahwa krisis iklim bukan sesuatu yang jauh di masa depan. Ia sudah datang, dan salah satu wajahnya adalah kebakaran yang nyaris tak terkendali.

Kabupaten Solok, yang selama ini dikenal dengan kehijauan dan ketenangan alamnya, kini berubah menjadi titik merah di peta bencana.

Di titik ini, penanggulangan bencana tak boleh lagi dianggap sebagai urusan darurat semata. Ia harus menjadi bagian permanen dari perencanaan pembangunan daerah dan nasional. Dibutuhkan penguatan BPBD, pendidikan mitigasi bencana di sekolah, serta anggaran tetap untuk kesiapsiagaan jangka panjang.

Kepemimpinan Bupati Jon Firman Pandu telah membawa suara rakyat Solok ke meja BNPB. Tetapi keberhasilan langkah ini akan sangat bergantung pada respons cepat dari pemerintah pusat. Bantuan yang datang terlambat hanya akan jadi statistik penderitaan baru.

Kini, harapan ada di Jakarta. Di ruang-ruang keputusan. Dan rakyat Solok menunggu, bukan sekadar bantuan, tapi bukti bahwa negara hadir dengan serius, dengan sistematis, dan dengan empati.(*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button