Tak Berkategori

Menjaga Rasa Dalam Hidup, Budaya, dan Kepemimpinan

Ilang Raso Santan dek Gulai, Ilang Raso Gulo dek Kopi

Oleh: Syaiful Rajo Bungsu

Dalam falsafah Minangkabau, pepatah “ilang raso santan dek gulai, ilang raso gulo dek kopi” menyiratkan lebih dari sekadar kehilangan cita rasa makanan.

Ia adalah peringatan mendalam agar kita tidak kehilangan esensi, makna, dan jati diri dalam menjalani kehidupan baik dalam kepemimpinan, budaya, maupun kehidupan sosial.

Apalagi di tengah arus globalisasi dan digitalisasi hari ini, pepatah ini kembali relevan dan mendesak untuk direnungkan.

Politik yang Kehilangan Rasa

Realitas politik hari ini menyisakan ironi. Banyak tokoh yang tampil dengan janji idealisme, namun berbelok ketika berada di kekuasaan. Politik menjadi panggung kepentingan, bukan lagi jalan perjuangan untuk kemaslahatan rakyat.

Dalam konteks Minangkabau, politik kehilangan ‘raso santan’ jiwa dari adat, syarak, dan nilai-nilai keadilan.

Buya Ahmad Syafii Maarif pernah mengingatkan, “Kekuasaan tanpa etika adalah jalan menuju kehancuran moral masyarakat.” Ketika nilai itu lenyap, maka pemimpin kehilangan legitimasi moral.

Hal ini diperkuat oleh Dr. Saldi Isra, Hakim Konstitusi asal Minangkabau, yang menyatakan bahwa “Integritas adalah nyawa dari kepemimpinan. Jika ia mati, maka kepercayaan publik ikut terkubur.”

Budaya dan Masyarakat yang Menipis

Modernisasi membawa kemudahan, tetapi juga ancaman bagi budaya yang tidak dijaga. Budaya Minangkabau yang berbasis pada adat dan syarak mulai mengalami erosi.

Gotong royong berubah menjadi urusan bayar-membayar. Musyawarah tergantikan oleh debat di media sosial. Banyak generasi muda yang tak lagi kenal nilai budi, malu, dan sopan santun.

Sastrawan Wisran Hadi pernah mengingatkan bahwa “Minangkabau akan tinggal nama jika adat hanya menjadi panggung pesta, bukan pedoman hidup.”

Peran tokoh adat ninik mamak, penghulu, dan kepala suku—seharusnya kembali diperkuat untuk menjaga marwah dan mendidik generasi muda.

Hari ini, tokoh adat perlu tampil bukan hanya di alek nagari, tapi juga aktif membimbing pemuda dalam menghadapi realitas digital.

Mereka bukan sekadar penjaga simbol, tetapi penuntun arah. Adat tak boleh statis, tapi harus mampu menjawab tantangan zaman.

Ibadah dan Kerja yang Kosong Makna

Dalam kehidupan spiritual dan profesional, rasa juga sering hilang. Ibadah dilakukan sebagai formalitas, kerja dilakukan tanpa ruh pengabdian. Padahal, dalam nilai Minangkabau, kerja adalah bentuk amal, dan ibadah adalah cermin akhlak.

Buya Hamka menulis, “Agama bukanlah simbol. Ia harus hidup dalam akhlak dan sikap.”

Maka peran tokoh agama buya, ustaz, imam surau menjadi sangat penting untuk menghidupkan kembali semangat keberagamaan yang santun, membumi, dan bermakna.

Hari ini, tantangan dakwah bukan sekadar menjawab persoalan hukum agama, tapi menjembatani nilai Islam dengan realitas digital dan psikologi anak muda. Buya harus mampu hadir dalam dialog sosial, di luar mimbar, menyentuh problem kehidupan masyarakat.

Pesan untuk Generasi Muda di Era Digital

Generasi muda hidup dalam dunia yang berubah cepat. Gawai menjadi sahabat dekat, algoritma menjadi kompas, dan budaya global mengalir deras tanpa saringan. Dalam situasi ini, penting sekali membekali mereka dengan identitas, akhlak, dan nilai yang kuat.

Globalisasi bukan musuh, tapi harus dihadapi dengan karakter. Dr. Saldi Isra menyebut bahwa “anak muda harus cakap teknologi, tapi tak boleh tercerabut dari akar budaya.”

Nilai Minangkabau seperti malu, tanggung jawab, amanah, dan musyawarah harus tetap hidup dalam sanubari anak muda, bukan sekadar di pelajaran muatan lokal.

Untuk itu, sinergi tokoh adat, agama, pendidik, dan pemimpin pemerintahan sangat dibutuhkan. Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh pintar tapi tanpa arah, cakap tapi kehilangan rasa.

Menjaga Rasa, Menjaga Arah

Pepatah “ilang raso santan dek gulai, ilang raso gulo dek kopi” bukan sekadar nostalgia, tapi petuah yang hidup. Ia mengajarkan kita bahwa rasa adalah arah, rasa adalah jiwa dari setiap tindakan. Dalam politik, tanpa rasa keadilan, ia menjadi alat penindasan.

Dalam budaya, tanpa rasa adat, ia menjadi simbol kosong. Dalam agama, tanpa rasa iman, ia menjadi ritus tanpa makna.

Dan dalam hidup, tanpa rasa, kita hanya bergerak, tapi tidak pernah benar-benar sampai.

Kini, saatnya kita bersama menjaga rasa itu. Agar Minangkabau tak hanya jadi kenangan, tapi tetap menjadi pelita dalam zaman yang terus berubah.(*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button