Tak Berkategori

Harga Tomat Anjlok, Petani Asal Alahan panjang Kabupaten Solok Buang Hasil Panennya Ke Jurang

“Responsif Terhadap Hilirisasi Tomat, Bupati Solok Epyardi Asda Temui Kemenperin”

Pasca petani Solok buang hasil panennya ke jurang, Bupati Solok Epyardi Asda temui Kementerian Perindustrian RI di Jakarta, Senin (1/7)

Solok, Suaraindependent.id — Viral di Medsos, sejumlah petani tomat asal Alahan Panjang Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok Propinsi Sumatera Barat membuang hasil panennya ke jurang. Hal itu mereka lakukan karena saat ini harga tomat dipasaran anjlok. Jangankan untung, untuk pembayar upah petik dan pembeli peti kemas tomat saja sudah tidak lagi mencukupi.

Tidak saja harga tomat yang murah, ada beberapa faktor lain yang menjadi pemicunya, seperti hasil panen melimpah dan kondisi jalan yang macet di Sitinjau Laut yang merupakan akses jalan satu-satunya semenjak jalan Padang Panjang ditutup total pasca banjir bandang dan galodo melanda wilayah Sumatera Barat beberapa waktu lalu

Responsif Bupati Solok, H. Epyardi Asda, M. Mar atas kondisi tersebut cukup diacungi jempol. Kenapa tidak, mendapati hal tersebut, ia langsung menemui Kepala Badan Standarisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI), Andi Rizaldi di Jakarta

Dari pertemuan tersebut, menghasilkan sebuah nota kesepakatan antara Pemerintah Kabupaten Solok dengan BSKJI dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan daya saing industri kecil dan menengah, Senin (01/07).

Kondisi terkini yang terjadi pada petani tomat asal Solok disampaikan secara gamblang oleh Epyardi Asda dalam pertemuan tersebut. Ia menyebutkan bahwa beberapa waktu kemaren petani mengeluhkan harga yang anjlok bahkan tomat hasil panen mereka terpaksa dibuang

“Hal ini terjadi selain karena harga murah, juga karena akses transportasi yang macet parah di sejumlah daerah di Sumatera Barat”

Kita berharap, ungkap Bupati Solok. Dengan adanya kerja sama ini mampu memberikan solusi dan jalan keluar bagi petani tomat di Kabupaten Solok

“Kami sangat yakin akan ada solusi untuk masyarakat kami. Apalagi adanya delapan balai (BSKJI) yang bisa bekerja sama dengan kami. Contohnya dengan bentuk kemasan, rasa, atau kerja sama dengan BPOM sehingga industri hilirisasi,” ungkapnya.

Terkait dengan aksi buang tomat ke jurang yang diduga dilakukan oleh petani, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Solok Kenedi Hamzah angkat bicara

Ia menyebutkan, berdasarkan hasil  pembahasan bersama kelompok tani di Alahan Panjang Kabupaten Solok, terungkap bahwa kejadian ini sering terjadi ketika harga tomat anjlok

Ini karena petani sudah memanen tomat mereka dan dibawa ke pasar sayur tetapi tidak ada yang membeli maka mereka membuang demi hanya untuk menyelamatkan petinya. Sebagian petani memilih tidak memanen tomatnya dan membiarkan busuk dilahan, supaya tidak menambah biaya, setidaknya bisa jadi pupuk organik”

Hal ini juga berkaitan dengan harga tomat cukup lama tinggi dipasaran, dikarenakan di daerah Padang Panjang dan Tanah Datar tidak bisa menanam tomat karena faktor bencana termasuk juga daerah sentra lainnya kurang menanam

Oleh karena itu, petani Solok banyak menanam tomat, yang mengakibatkan over produksi, sehingga harga di pasaran anjlok. Hal itu juga terjadi di pulau Jawa, mereka juga ikut panen. Dulu harganya sempat Rp 12 ribu Tapi sekarang harga di petani kita Rp 700 dan RP 1.200 di pedagang”

Kenedi berharap kedepannya diperlukan pola tanam. Dimana penerapannya bertujuan untuk memanfaatkan sumber daya lahan secara optimal, efektif dan efisien untuk menghindari risiko kegagalan panen dalam sistem usaha tani, karena hanya mengusahakan satu jenis tanaman saja dalam satuan waktu tertentu, ungkapnya.

Senada dengan itu, Kepala BSKJI, Andi Rizaldi menyebutkan bahwa industri pengolahan non migas memberikan kontribusi sebesar 17,47% dengan share terbesar diberikan oleh sektor makanan dan minuman sebesar 6,97%. Hal itu merupakan kontribusi terbesar dibanding sektor lainnya

“Dengan potensi yang ada di Sumatera Barat, masih terbuka peluang industri di sektor pengolahan non migas termasuk tomat. Sehingga pengembangan hilirisasi produknya memberi nilai tambah yang tinggi”

Andi juga mengatakan, untuk mengatasi fluktuasi harga tomat, BSKJI sudah melakukan penelitian dan kajian tentang pengolahan tomat. Dengan kerjasama yang terbentuk ini, pihaknya akan melakukan pelatihan pengolahan tomat kepada para petani tomat di Kabupaten Solok

Guna membidik sasaran pertumbuhan industri manufaktur sebesar 5,80% di tahun 2024, Kementerian Perindustrian telah menyiapkan sejumlah langkah strategis dan hal ini tertuang dalam program prioritas pada tahun 2024. Diantaranya adalah program penerapan, pemberlakuan dan pengawasan SNI wajib, program pendidikan dan pelatihan vokasi berbasis kompetensi, hilirisasi industri, program restrukturisasi mesin dan peralatan kepada pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM), serta implementasi industri 4.0, terangnya. (Billy@nsi-id)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button