DAERAH

Syaiful Rajo Bungsu; Menjaga Generasi Minangkabau di Era Global

Oleh: Syaiful Rajo Bungsu

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025 bukan sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, momen ini merupakan refleksi mendalam atas tanggung jawab kolektif dalam memenuhi dan melindungi hak-hak anak sebagai generasi penerus bangsa.

Tema “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”, dengan tagline “Anak Indonesia Bersaudara,” mengandung makna bahwa membangun karakter anak hari ini adalah pondasi bagi negeri yang bermartabat di masa depan.

Tanggung Jawab Bersama dalam Menjaga Anak

Dalam adat Minangkabau yang menjunjung tinggi falsafah “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, anak dipandang sebagai titipan Tuhan sekaligus harapan kaum.

Pendidikan dan perlindungan anak bukan hanya tugas orang tua semata, tetapi juga tanggung jawab niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, dan seluruh komunitas.

Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kabupaten Solok, Dr. H. Gusmal, SE, MM, Dt. Rajo Lelo, menegaskan bahwa masyarakat Minangkabau harus aktif membentengi generasi muda dari pengaruh negatif globalisasi.

Jangan biarkan anak-anak kita kehilangan jati diri karena lalai mendidik. Kita harus kembali ke nilai-nilai luhur yang telah mengakar kuat di ranah ini,” ujarnya.

Kekerasan, Narkoba, dan Krisis Jati Diri

Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa sepanjang 2023 terdapat 2.355 kasus kekerasan terhadap anak secara nasional.

Disumbar sendiri, menurut Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), terdapat 120 kasus kekerasan terhadap anak pada 2024, sebagian besar terjadi dalam lingkup rumah tangga.

Ancaman narkoba pun nyata. Laporan BNN mencatat lebih dari 2 juta anak muda menjadi pengguna aktif narkotika, termasuk lem, tramadol, dan zat berbahaya lainnya. Kabupaten Solok tidak luput dari masalah ini, terutama di kalangan remaja yang lepas kontrol dan minim perhatian orang tua.

Lebih jauh, munculnya fenomena perilaku menyimpang seperti LGBT di kalangan remaja Sumatera Barat menjadi peringatan serius.

Meski isu ini kompleks dan memerlukan pendekatan yang bijak, beberapa survei lokal dan observasi lapangan oleh pemerhati sosial menunjukkan adanya peningkatan ekspresi LGBT yang tidak selaras dengan nilai budaya dan agama masyarakat Minangkabau.

Ini menunjukkan bahwa krisis identitas tengah menggerogoti sebagian anak-anak kita yang kehilangan arah dan panutan.

Peran Pemerintah Daerah dan Keluarga

Bupati Solok, Jon Firman Pandu, menegaskan bahwa pemerintah daerah terus berupaya menciptakan ekosistem ramah anak melalui program pendidikan karakter, perlindungan sosial, dan penguatan nilai budaya lokal.

Anak-anak adalah cerminan masa depan Solok. Kita wajib memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, dan berakhlak,” ujarnya.

Ketua TP-PKK Kabupaten Solok, Ny. Nia Jon Firman Pandu, menyerukan pentingnya kolaborasi keluarga dan sekolah dalam membentuk karakter anak.

Perempuan, khususnya ibu, memiliki peran kunci dalam membentuk moral dan spiritual anak sejak usia dini. Mari jadikan rumah sebagai madrasah pertama yang menanamkan nilai kasih sayang, disiplin, dan kearifan lokal,” pesannya.

Hadapi Dunia Global dengan Adat dan Agama

Di tengah derasnya arus globalisasi, budaya digital, dan liberalisme nilai, anak-anak Minangkabau harus dipagari dengan ajaran adat dan agama.

Orang tua tidak cukup hanya menjadi pengawas, tetapi harus menjadi pembimbing dan sahabat bagi anak dalam menjelajahi dunia mereka.

Berikan mereka ruang untuk bertanya, ajak berdialog, arahkan dengan kasih, bukan dengan hukuman. Bimbing mereka untuk bangga menjadi bagian dari budaya Minangkabau yang luhur, santun, dan berbudi.

Jalan Menuju Indonesia Emas 2045

Jika bangsa ini ingin meraih Indonesia Emas pada 2045, maka harus dimulai dari anak-anak yang sehat fisik dan mental, cerdas intelektual, kuat spiritual, dan teguh pada budaya. Peringatan HAN bukan hanya seremoni tahunan, melainkan panggilan nurani untuk membenahi cara kita memperlakukan anak-anak.

Penutup: Seruan Kemanusiaan yang Tegas dan Humanis

Kita tidak sedang mempersiapkan anak untuk zaman kita, tapi untuk zaman mereka yang belum kita kenal. Maka hadirkan nilai dan arah, bukan hanya larangan. Jangan lepas tangan ketika gawai menggantikan pelukan, ketika budaya luar menggantikan surau, atau ketika adat diganti konten viral.

Anak adalah anugerah sekaligus amanah. Tumbuhkan mereka dengan kasih, lindungi mereka dengan adat, dan bimbing mereka dengan iman agar negeri ini tak hanya tumbuh hebat, tapi juga tetap bermartabat.

Mari kita jaga anak-anak kita dari kekerasan, narkoba, dan penyimpangan identitas yang mengancam masa depan mereka. Karena dari merekalah, cahaya Indonesia Emas akan menyala.(*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button