Pemasaran Politik di Era Media Sosial: Studi Kasus Strategi Digital Partai Gerindra Menjelang Pemilu 2024
Penulis Artikel: Atila Salsabila_2410833003
Dalam dunia politik modern, pemasaran politik (political marketing) menjadi elemen penting dalam aktivitas politik, digunakan oleh presiden, perdana menteri, partai politik, hingga lembaga pemerintahan untuk mencapai tujuan politik mereka.
Tidak hanya berfungsi untuk memperkenalkan kandidat atau partai, pemasaran politik juga menjadi sarana untuk membangun citra positif (political image) dan menjalin hubungan emosional dengan pemilih. Perkembangan teknologi komunikasi, khususnya media sosial, telah mengubah secara signifikan cara partai politik melakukan kampanye.
Seperti dikemukakan oleh Okan dan Akyuz (2015), kampanye politik di media sosial perlu dilakukan secara strategis dengan melibatkan relawan digital untuk membagikan konten dan memperluas jangkauan pesan politik. Pendekatan ini menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang mampu memengaruhi persepsi publik secara luas.
Pemasaran Politik di Indonesia Fenomena pemasaran politik di Indonesia semakin menonjol sejak Pemilu 2014 dan 2019, ketika partai-partai besar mulai memanfaatkan platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan X (Twitter) untuk berinteraksi langsung dengan publik.
Dalam konteks ini, media sosial tidak hanya menjadi sarana promosi, tetapi juga arena pertarungan opini publik yang menentukan citra partai di mata masyarakat. Salah satu partai yang konsisten menggunakan strategi pemasaran politik digital adalah Partai Gerindra. Partai ini dikenal aktif dalam membangun narasi Nasionalisme, ketegasan, serta figur kuat yang melekat pada ketokohan Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra.
Strategi Pemasaran Politik Partai Gerindra di Media Sosial X Penelitian yang dilakukan terhadap akun resmi @Gerindra di platform X (Twitter) pada periode 1 Januari 2023 hingga 10 Februari 2024 menunjukkan bahwa partai ini menerapkan strategi pull political marketing, yaitu menarik perhatian publik melalui citra dan pesan yang sesuai dengan kebutuhan serta harapan pemilih.
Strategi yang digunakan meliputi Akomodasi komunikasi politik Gerindra menyesuaikan pesan-pesan politiknya dengan isu-isu aktual seperti harga pangan, kesejahteraan rakyat, dan stabilitas ekonomi untuk mendekatkan diri dengan kebutuhan masyarakat.
Pemasaran media sosial konten visual berupa video pendek, infografik, dan kutipan pernyataan Prabowo digunakan untuk memperkuat pesan politik dan memperluas engagement publik.
Model interaksi dalam komunikasi akun @Gerindra secara aktif membalas komentar warganet, me-retweet dukungan, serta menggunakan tagar kampanye seperti #PrabowoGibran2024. Perbaikan imej politik (image repair) saat muncul isu negatif, akun tersebut segera memposting klarifikasi, prestasi partai, atau kegiatan sosial untuk menyeimbangkan persepsi publik.
Personal branding Figur Prabowo diposisikan sebagai sosok Nasionalis, tegas, dan berpengalaman citra ini menjadi pusat dari seluruh aktivitas pemasaran politik Gerindra. Celebrity endorsement Beberapa figur publik seperti Raffi Ahmad, Denny Cagur, hingga artis muda tampak mendukung Prabowo-Gibran di media sosial, memperkuat daya tarik politik terhadap pemilih muda.
Analisis Citra Politik dan Sentimen Publik Hasil pemantauan menunjukkan bahwa citra positif akun @Gerindra bersifat fluktuatif, mengalami kenaikan dan penurunan sepanjang tahun 2023. Namun, sejak Oktober 2023, tren sentimen positif menurun secara signifikan dan tidak menunjukkan kenaikan yang berarti hingga menjelang Pemilu Februari 2024.
Penurunan ini diduga dipengaruhi oleh meningkatnya kompetisi antarpartai di media sosial serta dinamika politik menjelang pemilihan, di mana publik semakin kritis terhadap pesan politik yang bersifat kampanye.
Pemasaran politik melalui media sosial kini menjadi instrumen utama dalam membentuk persepsi publik dan citra partai politik. Studi kasus Partai Gerindra menunjukkan bahwa strategi komunikasi digital yang efektif dapat meningkatkan visibilitas partai dan memperkuat personal branding tokoh politiknya.
Namun, keberhasilan di media sosial tidak selalu linier dengan peningkatan elektabilitas, karena faktor kepercayaan publik dan konteks politik Nasional juga memainkan peran penting. Dengan demikian, partai politik di Indonesia perlu memadukan strategi komunikasi digital dan pendekatan lapangan (offline) agar pesan politiknya tidak hanya populer di media sosial, tetapi juga membumi di hati pemilih.




