
MEDAN, SUARA INDEPENDENTNEWS.ID
Dalam hamparan sejarah umat manusia, baginda Rasulullah SAW bersinar bagai mutiara yang memancarkan cahaya keteladanan sempurna.
Setiap ucapan dan sikap beliau adalah cerminan akhlak agung yang menjadi panduan abadi bagi setiap insan yang merindukan kebenaran.
Momentum Maulid Nabi yang suci ini mengajak kita untuk menyelami lebih dalam perjalanan hidup Sang Rasul, mengambil hikmah dari setiap jejak kebaikan dan kedalaman rasa kemanusiaannya yang tak bertepi.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang artinya, “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4). Ayat ini bukan sekadar pujian, melainkan pengakuan Ilahi atas kesempurnaan akhlak yang melekat pada diri Nabi Muhammad SAW, bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Rasul.
Kisah agung permulaan turunnya wahyu, yang terekam dengan sangat otentik dalam Shahih Al-Bukhari yang diriwayatkan dari Aisyah RA, memberikan gambaran yang sangat mengharukan. Usai menerima wahyu pertama di Gua Hira’, Nabi Muhammad SAW pulang dengan tubuh bergetar membawa beban kenabian yang dahsyat. Beliau pun menemui sang sumber ketenangan, Khadijah binti Khuwailid RA, dan meminta untuk diselimuti.
Dengan penuh kelembutan, Khadijah menyelimuti sang suami, meredakan gemuruh yang menggetarkan jiwa, hingga akhirnya Rasulullah SAW dapat bercerita tentang peristiwa luar biasa yang baru dialaminya.
Dengan rasa khawatir, beliau berkata, “Aku benar-benar mengkhawatirkan diriku.”
Namun, dengan keteguhan iman dan mata hati yang mampu melihat nurani suci sang suami, Khadijah menjawab dengan kata-kata yang penuh keyakinan, “Sekali-kali tidak! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu untuk selama-lamanya. Engkau adalah seorang yang senantiasa menyambung tali silaturahmi, selalu membantu orang yang dalam kesulitan, memberi kepada yang tidak berpunya, memuliakan setiap tamu, dan engkau selalu menolong setiap jalan kebenaran.”
Dialog suci ini bukan sekadar percakapan antara suami-istri, melainkan sebuah piagam pengakuan atas keluhuran karakter yang telah melekat pada diri Nabi Muhammad SAW sepanjang hidupnya. Sejak sebelum diangkat menjadi Rasul, masyarakat Quraisy telah mengenalnya sebagai Al-Amin, yang dapat dipercaya, dengan sifat kemanusiaannya yang sangat tinggi.
Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, seperti Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, bahwa sifat-sifat mulia inilah yang menjadi persiapan terbaik untuk menerima amanah kenabian yang agung.
Pendapat ini diperkuat oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam karyanya, yang menyatakan bahwa kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus diwujudkan dengan meneladani akhlak Nabi dalam setiap aspek kehidupan.
Momentum Maulid adalah kesempatan emas untuk menghidupkan kembali sunnah-sunnah beliau, bukan hanya dalam ritual, tetapi lebih kepada menginternalisasi nilai-nilai luhurnya.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai titik tolak untuk membangun komitmen baru. Komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dengan meneladani sosok Nabi yang gemar menyambung silaturahmi, ringan tangan membantu yang memerlukan, berbagi beban bagi mereka yang kekurangan, memuliakan tamu dengan sepenuh hati, serta menjadi pilar penegak kebenaran.
Di tanah air kita, Indonesia, semangat ini telah diwujudkan dalam berbagai tradisi yang memeriahkan Maulid Nabi, dari pembacaan sholawat dan dzikir yang menggema, hingga berbagi kebahagiaan melalui sedekah dan amal kebajikan lainnya.
Semua ini adalah cerminan kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, yang sebagaimana sabda beliau, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Semoga dengan mengenal dan meneladani beliau, kita semua dituntun menjalan jalan kebenaran yang diridhai-Nya. Aamiin.
#Medan@KolongSepi, 06 September 2025 / 13 Rabiul Awal 1447 H : Sabtu,11.07#




